Tuesday, 29 October 2013

Lingkaran Cinta (part 1)

    "Seandainya bisa bertemu lagi, ingin sekali kubisikkan kalimat yang selalu diteriakkan benakku."

Itu yang selalu Sally katakan, setidaknya pada dirinya sendiri dan di buku hariannya. Ah... Hatinya serasa diremas saat mengingat hal itu. 
    "Mungkinkah itu?" pikirnya selalu. Seseorang yang memenuhi gyrus-gyrus memori itu berada jauh darinya. Menyeberangi samudera dan benua. "Dan aku masih saja terdampar di sini," terawangnya. Bibirnya terkulum menahan nyeri di dada. Namun, Sally sudah beradaptasi. Jika dulu matanya akan basah merasakan perih itu, sekarang hanya memerah tanpa ada aliran air asin lagi. Kulumannya berubah menjadi seulas senyum tipis tertahan.

~~~

    "Maaf, aku terlambat teman-teman!" Sally terengah setengah terpekik. Acara bakti sosial gereja tersebut sudah berjalan selama tiga per empat jam dan Sally baru saja tiba. Sally bukan orang yang suka terlambat. Hanya saja cuaca mendung tidak bersahabat baginya. Malang benar dia, basah terkena cipratan air selama menunggu bis tumpangannya tiba. Nyatanya, bisnya terlambat 30 menit dari yang dia kira.

Teman-teman Sally memandang maklum dan melanjutkan aktivitas mereka. Sally mulai membantu membenahi meja-meja yang letaknya terdeviasi dari sumbu. Matanya awas terhadap sosok-sosok yang melewatinya. Oh, hei! Dia...? Terhenti sejenak, kepala Sally tertubruk tangan yang sedang melayang.
      "Ke kanan sedikit. Eh, stop. Ke kiri. Yak!... Aduh!" ujar si pemilik tangan.
      "Saldiiii! Hati-hati dong. Sakit nih...," ringis Sally sambil menunjuk mata kanannya.
    "Maaf Sal... Aku ga lihat kamu," balas Saldi. Tangannya bergerak ingin memastikan kondisi mata Sally, namun terhenti ketika mengingat perkataan Sally 2 bulan sebelumnya.

     "Eh? SAKAAA?" dengan matanya yang bengkak Sally terbelalak. Yang dipangil juga sama kagetnya dengan Sally. Pandangan kaget Saka hanya berlangsung sepersekian detik karena dia langsung menyapa dengan santainya.
     "Hai, Sally. Tidak kuduga kita bisa bertemu di sini," ujarnya ramah. Yang disapa hanya tersenyum, seperti bahagia namun terlihat sedikit bingung.
     "Aku sedang liburan ke Yogya. Aku ke sini diajak oleh teman, namanya Stephania" lontarnya tanpa ditanya.
     "Steph? Gimana caranya kamu kenal Steph? Dia di Prague, kan?" kali ini Sally menyahut.
     "Oh? Kenal dia? Memang dia asli Yogya. Waktu itu Universitasku di Jerman mengadakan kunjungan ke Universitas lain, salah satunya universitas si Nia," kata Saka sambil tersenyum lebar. "Entah kenapa, aku merasa cocok sama dia, jadi aku ga masalah waktu diajak ke Yogya sebelum pulang ke Surabaya. Hitung-hitung berwisata," jelas Saka sambil tersenyum.

Senyumnya, lirikan matanya, seringainya, wajahnya.... Betapa Sally merindukannya! Saka berdiri di hadapannya. Di Yogya. Di acara yang dulu tidak pernah mau dihadiri Saka selama mereka dulu sekolah di Surabaya.


No comments:

Post a Comment