Seandainya, kau mengerti apa yang kurasakan. Karena aku sendiri pun tidak tahu tentang apa yang sebenarnya kurasakan. Rasa itu muncul dari suatu yang tidak ada menjadi ada. Sejak kapan, aku tidak tahu dan tak ingin mengetahuinya. Rasa itu beragam; ringan namun berat, menekan atau melegakan, sesuatu yang tak terdefinisi.
Yang kutahu, rasa itu membuat aku tegang menghadapimu. Tiba-tiba saja aku mau meledak kalau rasa itu tidak ditahan-tahan. Apa pun sebabnya, aku menjadi gemetar bila bersamamu. Tersirap darahku hanya karena melihat dirimu. Malau aku bila terlihat bercela olehmu. Rasa itu mendorong aku ke arahmu.
Aku mulai terlatih untuk melapisi rasa ini dengan topeng. Bahagia dan nikmat rasa ini, walau memaksaku untuk berlaku lebih. Rasa ini menggelitik penesaranku hanya khusus tentang kamu. Hampir-hampir aku menjadi mata-mata demi sebuah pengertian yang memuaskan rasa ini. Rasa ini menjadi bagian hidupku.
Saat aku berada di dekatmu rasa ini mendorong aku untuk menarik perhatianmu. Bila gagal, rasa itu menodong aku lemah lesu. Aku ingin menunjukkan rasa ini padamu, tapi aku tidak mau kau tahu rasa itu ada. Dualisme menjadi gejolak batin dalam diriku. Rasa ini menyiksa, tapi berat untuk dilepaskan. Saat kau tersenyum, rasa itu menarik senyumku juga. Bahkan tanpa kusadari, kau bertanya-tanya mengapa aku begitu aneh di dekatmu. Kau heran apa yang sebenarnya terjadi denganku, mengira otakku kacau-balau.
Padahal dengan seribu satu macam cara aku mengatur rasa ini. Kutaruh dalam-dalam di batinku dilapisi emosi ceria yang datar. Kututup celah-celah pikiranku agar tidak dipengaruhi rasa yang tiba-tiba membara. Namun, sia-sia saja sebab rasa itu mencuat dengan sendirinya. Jika hanya ada diriku seorang, kubiarkan rasa itu menguasaiku. Enak sekali, batinku yang lelah dan letih terpuaskan. Hanya karena satu hal, rasa.
Sekarang, rasa itu seperti menindih jantungku. Aku dibekukan dalam waktu yang terus berjalan. Entah mengapa saat kau bersamanya rasa di dalamku berontak. Ia menyuruhku untuk mencengkrammu ke arahku. Tetapi akku tidak mentaatinya kali ini. Rasa itu selalu kusembunyikan, tidak pantas jika rasa itu kubiarkan menggelora. Perlahan tapi pasti, kubiarkan rasa itu memanaskan tubuhku. Kuterima sakit dalam dadaku karena rasa. Kuberikan rasa itu jalan keluar melalui kedua bola mataku. Kuhilangkan semua lapisan emosi dan kubolehkan rasa itu menguasai aku sepenuhnya. Saat sendirian, hanya sendirian. Lemas tubuhku, melepas semua yang pernah diterima dari rasa yang sedang ada. Lembap pipiku, mengeringkan rasa yang pernah ada. Terurai senyumku, sekali ini saja, untuk merelakan rasa itu. Aku tahu rasa itu pernah ada. Rasa itu bersisa sedikit sekarang. Tetapi aku mengerti sekarang. Rasa itu harus dikeluarkan seutuhnya. Kemudian, aku akan menjadi aku yang baru, yang berbeda dari sebelumnya, tanpa sesuatu yang harus ditutupi.
No comments:
Post a Comment