Aku ini seperti tokoh yang merana. Aku menganggap diriku adalah tokoh utama di sebuah kisah. Aku tak tahu judulnya, kalaupun ada buku yang menceritakan kisahku. Aku rasa tiap kisah selalu berakhir bahagia bagaimana pun juga. Meski kisah tentang cinta yang menyakitkan, tetapi akhirnya selalu membuat senyum terukir di wajah sang pembaca.
Tapi, tidak kisah untuk kisahku. Sejak awal, aku tahu aku bukan orang yang berani tentang cinta. Aku tak pernah memberitahu siapa pun masalahku tentang ini. Meski berat, aku rasa tak apa kalau kegalauanku kusimpan khusus untukku saja. Karena aku belum pernah berpengalaman tentang cinta. Ini yang pertama dan mungkin tidak berakhir bahagia.
Aku benci untuk mengakuinya. Tapi, sahabatku sepertinya sering mengambil orang-orang yang penting dan yang mewarnai diriku. Dia selalu bisa menarik perhatian orang padanya. Lalu, aku tampak seperti seseorang yang terkena imbasnya, tidak benar-benar diperhatikan. Kali ini pun begitu. Aku pikir dia sudah tahu pria yang kusukai tanpa mengatakan apa-apa. Kurasa, gerak-gerikku terlalu menunjukkanya.
Aku tahu, pria itu tidak senang dengan gadis agresif seperti sahabatku. Jadi, aku agak tenang. Belakangan, baru kusadari. Sahabatku tidak sekedar ingin menarik perhatiannya. Dia juga ingin memilikinya! Aku ragu, ia akan mendapatkannya. Pria itu tidak menyukai orang bertipeseperti sahabatku. Aku jadi ragu untuk bersikap. Terkadang berusaha mendekati pria itu juga. Tapi, sedapat mungkin tak ada orang yang menyadarinya.
"Ris, boleh kita bicara sebentar? Berdua saja," ujar pria itu suatu hari. Eh, apa...? Bicara? Aduh, ada apa ini? Jantungku langsung berdetak lebih cepat! Belum pernah aku bicara dengannya berdua saja. Lalu, terjadilah. Dia mengaku bahwa dia jatuh cinta........pada SAHABATKU!!! Bagai disambar petir di siang bolong, aku hanya bengong. Tak tahu respon apa yang harus kuberikan padanya. "Ris, kau tidak apa-apa?" tanyanya. Mungkin wajahku terlihat pucat. "Eh, oh tidak. Maksudku, aku tidak apa-apa," jawabku tergagap.
Mengapa kau mengaku padaku? Mengapa kau tidak langsung saja mengaku padanya? Berbagai pertanyaan melintas di benakku. "Ehm... Kau kan sahabatnya. Mungkin bisa memberitahunya pelan-pelan," katanya tersipu. Aduh, apa yang kulakukan? Terucapkah pertanyaan yang mengganggu di benakku? Aku rasa iya. Dengan setegar mungkin, aku berusaha menyunggingkan senyum manis. Berat sekali rasanya setelah yang kualami. "Baiklah, nanti kusampaikan.Jangan pernah menyakitinya ya," kataku. "Pasti," jawabnya mantap. Satu hal yang ingin kutanyakan, "Terakhir. Bukannya kamu pernah menyinggungnya bahwa bukan cewek seperti itu yang kau sukai. Kenapa sekarang...?" Kubiarkan pertanyaan itu menggantung. Aku belum bisa mengatakan bahwa dia menyukai sahabatku. "Justru itu. Aku juga tidak tahu. Tapi kurasa, itulah namanya cinta, menyatukan semua yang bertentangan..." Dia lalu pergi begitu saja.
Itulah namanya cinta, menyatukan semua yang bertentangan. Kata-katanya masih melekat di pikiranku. Meski mataku kini basah, aku tersenyum mengingat yang baru saja terjadi. Beberapa bulan kemudian, mereka jadian. Sahabatku terlihat bahagia, begitu juda pria itu. Lalu, sahabatku tidak seagresif biasanya. Ia sudah puas dengan cintanya yang sekarang. Aku mendoakan mereka bahagia, meski sedih. Tapi, aku sudah berbekal kata yang bijak untuk menapaki cinta yang baru. Pasti itu adalah cinta, yang menyatukan semua yang bertentangan.....
Aku benci untuk mengakuinya. Tapi, sahabatku sepertinya sering mengambil orang-orang yang penting dan yang mewarnai diriku. Dia selalu bisa menarik perhatian orang padanya. Lalu, aku tampak seperti seseorang yang terkena imbasnya, tidak benar-benar diperhatikan. Kali ini pun begitu. Aku pikir dia sudah tahu pria yang kusukai tanpa mengatakan apa-apa. Kurasa, gerak-gerikku terlalu menunjukkanya.
Aku tahu, pria itu tidak senang dengan gadis agresif seperti sahabatku. Jadi, aku agak tenang. Belakangan, baru kusadari. Sahabatku tidak sekedar ingin menarik perhatiannya. Dia juga ingin memilikinya! Aku ragu, ia akan mendapatkannya. Pria itu tidak menyukai orang bertipeseperti sahabatku. Aku jadi ragu untuk bersikap. Terkadang berusaha mendekati pria itu juga. Tapi, sedapat mungkin tak ada orang yang menyadarinya.
"Ris, boleh kita bicara sebentar? Berdua saja," ujar pria itu suatu hari. Eh, apa...? Bicara? Aduh, ada apa ini? Jantungku langsung berdetak lebih cepat! Belum pernah aku bicara dengannya berdua saja. Lalu, terjadilah. Dia mengaku bahwa dia jatuh cinta........pada SAHABATKU!!! Bagai disambar petir di siang bolong, aku hanya bengong. Tak tahu respon apa yang harus kuberikan padanya. "Ris, kau tidak apa-apa?" tanyanya. Mungkin wajahku terlihat pucat. "Eh, oh tidak. Maksudku, aku tidak apa-apa," jawabku tergagap.
Mengapa kau mengaku padaku? Mengapa kau tidak langsung saja mengaku padanya? Berbagai pertanyaan melintas di benakku. "Ehm... Kau kan sahabatnya. Mungkin bisa memberitahunya pelan-pelan," katanya tersipu. Aduh, apa yang kulakukan? Terucapkah pertanyaan yang mengganggu di benakku? Aku rasa iya. Dengan setegar mungkin, aku berusaha menyunggingkan senyum manis. Berat sekali rasanya setelah yang kualami. "Baiklah, nanti kusampaikan.Jangan pernah menyakitinya ya," kataku. "Pasti," jawabnya mantap. Satu hal yang ingin kutanyakan, "Terakhir. Bukannya kamu pernah menyinggungnya bahwa bukan cewek seperti itu yang kau sukai. Kenapa sekarang...?" Kubiarkan pertanyaan itu menggantung. Aku belum bisa mengatakan bahwa dia menyukai sahabatku. "Justru itu. Aku juga tidak tahu. Tapi kurasa, itulah namanya cinta, menyatukan semua yang bertentangan..." Dia lalu pergi begitu saja.
Itulah namanya cinta, menyatukan semua yang bertentangan. Kata-katanya masih melekat di pikiranku. Meski mataku kini basah, aku tersenyum mengingat yang baru saja terjadi. Beberapa bulan kemudian, mereka jadian. Sahabatku terlihat bahagia, begitu juda pria itu. Lalu, sahabatku tidak seagresif biasanya. Ia sudah puas dengan cintanya yang sekarang. Aku mendoakan mereka bahagia, meski sedih. Tapi, aku sudah berbekal kata yang bijak untuk menapaki cinta yang baru. Pasti itu adalah cinta, yang menyatukan semua yang bertentangan.....
apa yang saya cari, terima kasih
ReplyDeleteHaha... Sama-sama...
ReplyDeleteCari cerpen ya?