Thursday, 4 February 2010

Pengorbanan Cinta


Pengorbanan Cinta
14 Februari....
     Hari ini, hari Jumat. Hari ke-2 terakhir sekolah untuk minggu ini.  Aku masuk ke kelas berpapan 11 A jurusan IPA. Hari ini, aku menjadi 17 tahun. Ya, 17 tahun! Tapi, aku tidak merayakannya. Orang tuaku juga tak akan mau melakukannya. Lagipula, tidak banyak yang sadar bahwa hari ini usiaku bertambah. Bagi mereka, tidak penting untuk mengetahui hari spesialku. Mereka hanya tahu, hari ini hari Valentine....
__________**************__________
Ding-dong, ding dong....
       Bel tanda masuk berbunyi. Lumayan, istirahat pertama tadi mengistirahatkan otakku yang tegang sejak pagi. Tiba-tiba, mataku tertumbuk pada benda di atas mejaku. Sesaat aku tak mengerti. Entah kenapa, aku hanya menangkap sosok merah dengan tubuhnya yang hijau. Mataku melebar. Benda itu... Mawar! Mawar merah merona... Kusentuh tangkainya saat duduk. Asli. Ternyata mawar asli, 2 tangkai. Kurasakan wajahku memanas saat kulihat kartu di bawah 2 tangkai mawar itu. Tetapi, aku merasa ini mimpi saja.
        Aku memang tak salah. Ini bukan mimpi! Buktinya, aku tertusuk duri tangkai itu. Setetes darahku tepat mengenai kartunya. Diam-diam aku berharap, bahwa ini bukan hadiah Valentine. Aku lebih suka ini sebagai hadiah ulang tahunku. Saat kubaca bagian depan kartunya, aku kecewa karena tertulis "Be My Valentine". Aku cepat-cepat menaruh mawar-mawar tersebut di kolong mejaku. Kartunya kusimpan di kantong kemeja. Untung sekali, teman sebangkuku sakit hari ini. Kalau tidak, gawat. Bisa saja aku bakal diolok-olok oleh 1 kelas, bahkan kelas sebelah.
__________**************__________ 
Ding-ding, ding-ding...
Bel istirahat berbunyi. Waktunya makan siang, pikirku. Tetapi, sebelum melangkah lebih jauh dari mejaku, aku ingat aku belum membaca isi kartu tersebut. Betapa terkejutnya aku ketika kubaca kata-kata di dalamnya. "Happy Birthday, Vien! Moga di umur kamu yang ke 17 ini, kamu bisa menjadi lebih dewasa".
Itulah kata-kata yang kubaca. Aku tidak menyangka ada yang ingat hari ini ulang tahunku. Setahuku, hanya ada dua orang yang selalu menyelamatiku. Michael, yang sudah ke negeri Paman Sam dan Lindi yang tahun ini ke negeri Sakura. Aku sangat kehilangan mereka, tapi aku tahu hari ini pasti ada e-mail yang menungguku. Hanya, aku tak menyangka akan ada kartu untukku seperti tradisi kelas. Kulihat kembali kartu itu.
PS: Maaf aku tidak ngasih kartu ini langsung ke kamu. Soalnya tidak ada yang sadar hari ini ulang tahunmu... Padahal, memberi kartu itu tradisi kelas kita. Aku tahu dari Michael. Aku  tidak enak kalau tidak memberi kartu...
PPS: Cover depannya agak aneh ya? Maaf, hanya itu yang bisa kudapat di bulan Februari... Mau ketemuan sepulang sekolah?

Aku tersenyum. Teman Michael ya... Hm, kalau tidak salah memang ada beberapa dari teman Michael itu yang akrab denganku tapi tidak seperti Michael, Lindi dan aku. Siapa ya? Ada dua orang yang kuingat. Dino dan Leon. Michael tahu aku suka Leon, tapi tidak mungkin Michael memberi tahu mereka berdua tentang perasaan dan ulang tahunku. Terus, ini siapa? Sudahlah, nanti sepulang sekolah aku menemui dia saja. Aku berharap...
__________**************__________

Teng-teng-teng-teng-teng-teng...

Bel berbunyi enam kali. Waktu memang cepat sekali. Sekarang sudah waktu pulang sekolah. Aku agak gemetar. Soalnya, aku tidak tahu siapa yang akan kutemui sepulang sekolah. Aku cemas memikirkan bahaya apa yang kira-kira mengintai. Tapi, aku juga penasaran. Siapa teman Michael yang tahu soal ulang tahunku. Hm... Aku akan terlambat pulang, tapi tidak apa-apa. Toh hari ini aku 17 tahun.
Sekolah mulai agak sepi. Aku kembali ke kelas dan menunggu. Belum pernah aku merasa seberani ini. Kalau pun ada orang yang mau bertemu denganku sepulang sekolah, setidaknya aku bersama Lindi di kelas. Tapi aku sendiri. Tiba-tiba, kulihat sosok laki-laki yang berjalan. Kalau diperhatikan, ya seperti Leon. Astaga Leon-kah yang mengirimnya?  Tidak mungkin, cowok sekeren dia tidak mungkin menulis kartu itu. Kulihat sekelilingku. Memang masih ada beberapa anak yang nongkrong di lapangan sekolah. Tapi, tidak banyak. Lalu, aku kembali duduk dan menunggu. Brakk... Pintu kelasku terbuka. Dia...!
__________**************__________
Tahun-tahun sudah berlalu. Aku sudah hampir mencapai tingkat skripsi. Aku kini di fakultas MIPA, jurusan favoritku dari dulu. Aku ingat janjiku pada orang tuaku dan pada seseorang. Nanti kalau sudah skripsi, aku sudah boleh menentukan pilihan untuk pasangan hidupku. Baru 4 tahun dan aku sudah hampir memulai skripsiku. Pada saat itulah, aku akan memilih Leon. 
Ya 4 tahun yang lalu, dia mengirimkan ucapan ulang tahun saat aku berusia 17 tahun. Pulang sekolah itu, ternyata dia mengaku suka padaku. Awalnya, aku tak tahu harus menjawab apa. Aku tahu pipiku memanas, tapi akhirnya kujawab dengan jujur. Tapi, aku juga bilang padanya bahwa aku boleh dan ingin berpacaran setelah aku bisa menyelesaikan beberapa semester dan memulai skripsi. Kupikir dia akan kecewa dan menyukai orang lain. Senangnya saat dia bilang mau menungguku. Karena dia juga berpikir kita terlalu muda saat itu. Jadi, aku gembira sekali tentang hal ini. Lusa nanti, aku akan menyusun skripsi. Sebaiknya, kuberitahukan saja kabar ini pada orang tuaku dan pada Leon.
__________**************__________
"Apa? Mama sakit?" ujarku di telepon. Tanpa sadar, aku berteriak sehingga orang-orang sekitar memandangku. "Dari seminggu yang lalu? Mengapa kau tidak segera telepon??" kupelankan suaraku. Aku menghembuskan napas perlahan sambil mendengar penjelasan adikku. Aku baru saja menelpon Leon tentang hal ini dan sedang menelpon Papa-Mama di rumah tentang hal ini. Ternyata adikku yang mengangkatnya dan mengatakan kabar yang mengejutkan ini. Kalau seperti ini, aku pasti menunda skripsiku dan segera pulang ke kampung halaman.
Setelah adikku selesai, Papa segera mengambil alih teleponnya. Ia bilang ia sudah memesan tiket. Aku diharapkan segera datang 2 hari lagi. Cepat-cepat kusela keterangan Papa bahwa aku mau skripsi. Tetapi katanya, "Bawa saja bahan-bahannya dan kerjakan di sini." Papa tidak memikirkan susahnya menyiapkan bahan secepat kilat untuk dibawa ke sana! Selesai telpon dengan keluarga, kutekan tombol ponselku. "Halo, Vien…" tersambung! Kuberi tahu tentang apa yang baru saja kudengar dan keputusan yang baru saja diambil. Entah mungkin mendengar suara cemas atau gemetar, ia menghiburku dan bilang supaya aku harus kuat. Leon tahu aku panik ya, kataku dalam hati. Seulas senyum tersungging di bibirku, tapi sejenak kemudian aku berkerut. Katanya, dia diharuskan orang tuanya ke Prancis untuk pendidikannya. Itu akan memakan waktu lama. Dia bilang dia akan sering pulang ke Indonesia, tapi aku berkata aku yakin padanya dan banyak hal yang harus kuselesaikan. Ponsel kututup, aku segera bersiap untuk keberangkatan 2 hari lagi.
 __________**************__________
Kulirik jam tanganku. Uh jam setengah 11 malam. Kusimpan draft skripsiku dan kumatikan laptopku. Aku mengerjakan skripsi sambil menjagai Mama di rumah sakit. Sudah beberapa hari Mama terlihat lemas. Adik yang SMA tidak bisa menemani. Jadi, aku-lah yang disuruh. Aku perlahan menuju ke tempat tidurku. Yah, tidak bisa dibilang tempat tidur karena itu hanya matras yang tergeletak di lantai.
Tak sengaja, aku menyenggol mapku. Isinya berjatuhan. Terpaksa aku bangkit lagi dan membereskan semuanya satu per satu. Tiba-tiba, kulihat kertas pemberian Leon. Ini waktu aku berulang tahun ynag ke-19. Isinya adalah puisi berjudul ‘Cinta’ karangannya. Setelah semua beres, aku membaca puisinya perlahan-lahan sambil tersenyum.
Cinta…
Cinta itu membingungkan… 
Cinta itu penuh…
Karena cinta itu indah…
Penuh pengorbanan…
Tapi, jatuh cinta pasti sakit            
Karena cinta membahagiakan...
Cinta menyenangkan…            
Kalau kita mengorbankannya…
Tapi tidak untuk semua orang…        
                                                  Demi kebahagiaan semuanya…
__________**************__________
Sudah berhari-hari aku di rumah sakit. Untungnya, dokter bilang kalau Mama sudah boleh pulang minggu depan. Tetapi, kita harus menuruti apa kata Mama. Kalau tidak Mama bisa kambuh lagi sakitnya. Agak aneh memang, tapi kumaklumi saja. Tak pernah terpikirkan olehku bahwa itu akan mengecewakanku selamanya.
"Ma, selama Mama sakit aku sudah menyusun skripsi lho…" kataku saat berbenah barang-barang Mama. "Iya. Mama dengar samar-samar dari Papa," jawab Mama santai. "Lalu, kamu mau menagih janji itu ya?" Mama tersenyum simpul. "Yah, tidak juga. Aku hanya mau melapor prestasiku," jawabku. Meski masih lemas, Mama bisa menggodaku. Mama tahu tentang Leon itu dan aku cerita tentang semua yang terjadi akhir-akhir ini. Mama hanya terdiam tetapi sepertinya kurang senang.
__________**************__________
"Vien, emang kamu boleh berpacaran setelah skripsi. Setahu Papa, kamu cuma pingin sama Leon kan?" Tanya Papa suatu malam. Aku mengangguk. Papa mengatakan keinginan Mama. Aku… Harus dengan seseorang dari yang bersuku sama? "Pa, itu diskriminatif banget. Papa kan tahu Leon itu gimana…" jawabku kesal. Setahuku, keluargaku adalah keluarga yang bebas dari tradisi itu. Alasannya, karena aku anak sulung lebih bisa diharapkan untuk taat. Lalu, kalau nanti Leon lama di Prancis, Mama bisa khawatir akan meninggalkanku cepat. Aku bangkit dari sofa dan menuju ke kamar. Tuntutan mereka terlalu tinggi! Aku menyelesaikan kuliah cepat bukan apa-apa, Papa-Mama bilang aku harus cepat agar ada biaya buat adik. Itupun aku sudah dapat beasiswa.
Aku e-mail­ Leon tentang ini karena dia sedang online. Ternyata, dia juga diharuskan memilih gadis yang akan mndukung karirnya. Papa Leon kurang setuju dengannya tentang aku. Aku bingung, apa semua orang tua janjian untuk memisahkan anaknya. Mama yang mendengar aku menolak keinginannya langsung pingsan. Semula aku tak peduli, tapi mendengar suara panic adikku membuatku pergi ke dekatnya. Aku tahu Mama shock. Sepertinya berat anaknya yang penurut bisa berubah seperti ini.
Mama masuk ICU. Aku marah tapi juga takut. Mama seperti memanfaatkan sakitnya. Leon pun kini juga bingung. Apakah kita bisa bersama? Adikku datang mebuyarkanku. Dia memohon agar aku menuruti Mama. Siapa tahu saja itu untuk terakhir kali. Aku menjawab aku masih skripsi dan tidak ingin memikirkannya. Adikku membujuk lagi dan kujawab akan kupertimbangkan. Untuk ketiga kalinya adikku memohon, kali ini dengan suara bergetar. Mataku menghangat, lalu kujawab ya. Adikku tersenyum dan memelukku. Tetapi belum lama kulepas badanku dari pelukannya dengan kasar. Aku harus sendiri!
__________**************__________
 "Leon, aku…" jawabku di telepon. Aku cerita semuanya dan terisak. Aku bingung. Kalau sudah begini perempuan hanya bisa bersedih. Aku tahu Leon dan aku tak punya pilihan. Kami harus merelakan semua keinginan yang ada. "Tidak apa. Kita masih bisa jadi sahabat," ujarnya perlahan. Sesaat kami terdiam. Hatiku sakit sekali, mengingat semuanya terasa begitu cepat. "Kamu masih dengar…?" tanyanya menghilangkan kesunyian. "Iya. Kamu gak sedih?" jawabku cepat, takut kalau nanti menangis lebih keras. "Ingat puisi karanganku untukmu? Kurasa itu bisa membantu," katanya. Aku tertawa masam. Iya, memang dia menulis kalau cinta membahagiakan kalau kita korbankan. "Tapi seharusnya membahagiakan dan…" jawabku kesal. "Menyakitkan untuk kita memang. Tapi itu membahagiakan lebih banyak orang," selanya cepat. Ya, dia benar. Itulah maksud puisinya. Maksud yang benar-benar dalam.
Aku tahu, pilihanku benar. Aku tahu, aku harus merelakan Leon. Aku sadar, setidaknya ini bukti cintaku pada Mama dan Papa. Ini juga rasa hormat pada orang tua dan keluarga. Meskipun itu butuh usaha. Karena itu mengambuil bagian terdalam di idupku, yaitu cinta……… 

No comments:

Post a Comment